WELCOME ....

Seringkali perjuangan adalah sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup ini. Jika Tuhan memperbolehkan kita melewati hidup ini tanpa cobaan, hal itu akan membuat kita lemah..

Minggu, 31 Oktober 2010

RUANG LINGKUP ORGANISASI METODE

1. SIFAT DAN MAKSUD ORGANISASI DAN METODE

Pengertian organisasi dan metode, antara manajemen, organisasi dan tata kerja merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan artinya kalau tata kerjanya sudah efisien berarti diharapkan pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dalam organisasi bisa berjalan lancar.

Jadi sifat dan maksud organisasi metode adalah pelayanan terhadap manajer dan administrasi yang berusaha memajukan pekerjaan mereka atau tata kerja yang diper­gunakan dalam rangka pencapaian efisiensi yang maksimal pada organisasi

2. PENGERTIAN EFISIENSI

Efisiensi adalah perbandingan terbaik atau rasionalitas antara hasil yang diperoleh atau output dengan kegiatan yang dilakukan serta sumber dan waktu yang digunakan. Kalau dirumuskan sebagai berikut:

Efisiensi = Output dibagi Input

Beberapa pengertian Efisiensi

Efisiensi adalah perbandingan terbaik antara suatu kegiatan dengan hasilnya. Menurut definisi ini, efisiensi terdiri atas 2 unsur yaitu kegiatan dan hasil dari kegiatan tersebut.

Efisiensi merupakan suatu ukuran keberhasilan yang dinilai dari segi besarnya

sumber/biaya untuk mencapai hasil dari kegiatan yang dijalankan.

Pengertian efisiensi menurut Mulyamah (1987;3) yaitu:

“Efisiensi merupakan suatu ukuran dalam membandingkan rencana penggunaan
masukan dengan penggunaan yang direalisasikan atau perkataam lain penggunaan
yang sebenarnya.

SP.Hasibuan (1984;233-4) yang mengutip pernyataan H. Emerson adalah:

“Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara input (masukan) dan output.

Efisiensi di sini harus diperhatikan benar-benar karena merupakan syarat atau ukuran pada pelaksanaan kerja yang setepat-tepatnya sehingga 0 & M sebagai bantuan secara teknis dan praktis dalam melaksanakan fungsi manajemen bisa memanfatkan sumber­sumber waktu dan ruangan yang tersedia secara maksimal.

Adapun syarat pencapaian efisiensi dalam 0 & M adalah sebagai berikut:

1. Pencapaian target haruslah berhasil guna maksudnya target tercapai sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan tetapi mutu dad hasil kerja tersebut juga harus diper­hatikan.

2. Ekonomi artinya dalam pencapaian effective (berhasil guna) penggunaan biaya, tenaga kerja, material, peralatan dan waktu sudah digunakan setepat-tepatnya.

3. Pelaksanaan kerja bisa dipertanggungjawabkan.

4. Harus benar-benar mencerminkan pembagian kerja yang nyata karena adanya keter­batasan kemampuan perseorangan.

5. Rasionalitas wewenang dan tanggung jawab artinya antara wewenang dan tanggung jawab yang dibebankan kepada tenaga kerja harus seimbang

6. Prosedur kerja yang praktis. dapat dikerjakan dan dapat dilaksanakan. Hal ini untuk mecerminkan bahwa 0 & M adalah kegiatan yang praktis maka target efektif dan ekonomis, pelaksanaan kerja yang dapat dipertanggung jawabkan serta pelayanan kerja yang memuaskan .

Efisiensi kerja dapat ditingkatkan melalui:

1. Pelaksanaan fungsi manajemen secara tepat

2. Pemanfaatan sumber-sumber daya ekonomi yang tepat

3. Pelaksanaan fungsi- fungsi organisasi sebagai alat pencapaian tujuan yang setepat­tepatnya.

4. Pengarahan dan dinamika organisasi dilakukan untuk pengembangan dan kemajuan yang berkesinambungan.

3. RUANG LINGKUP ORGANISASI DAN METODE

Adapun kegiatan-kegiatan yang termasuk kedalam scope 0 & M adalah sebagai beriku_:

1. Analisis organisasi (organization analysis).

2. Komunikasi dalam organisasi (communication in the organization).

3. Tentang tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja (work methods, procedures an i systems).

4. Pentingnya filing dari segi 0 & M.

5. Pentingnya jangka waktu penyimpanan data dan dokumen (record retention and schedule).

6. Pentingnya formulir dari segi 0 & M .

7. Pendayagunaan mesin kantor (office machine).

8. Pendayagunaan perabotan dan peralatan kantor (office equipment).

9. Pentingnya tata ruang kantor dan perencanaan penyusunan ruangan kerja (office layout and space planning).

10. Pentingnya penulisan laporan dalam 0 & M.

11. Pentingnya buku pedoman kerja.

12. Pentingnya 0 & M anggaran belanja.

13. Analisis kepegawaian.

14. Pentingnya penyederhanaan kerja.

15. Organisasi unit 0 & M.

Kesimpulan akhir (final conclusion).

Sesuai dengan prinsip-prinsip dalam 0 & M maka pembahasan bidang-bidang tersebut akan dititikberatkan pada pembahasan tentang sistem, prosedur, clan tata kerjanya dalam kaitannya dengan asas efisiensi.

Adanya sistem, prosedur dan tata kerja yang tepat akan memungkinkan pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen yang dilakukan top manajer juga tepat dan efisien dalam pemakaian sumber daya alam, sumber day manusia maupun penggunaan waktu yang tersedia.
»»  READMORE...

DIRECT AND INDIRECT SPEECH

Ok, first let me explain the meaning of the sentence and the sentence directly and indirectly. We often have to give information about what people say or think. In order to do this you can use direct or indirect speech.

Direct Speech or Quoted speech

Saying exactly what someone has said is called Direct Speech. Here what a person says appears with quotation marks ( “….” ) and should be words for word.

Ex : She said, “ Today’s lesson is on presentations.” → this sentences using quotation mark

Indirect Speech or Reported Speech

Indirect speech sometime called reported speech doesn’t use quotation marks to enclose what the person said and it doesn’t have to be word for word.

When reporting, speech the tenses usually changes. This is because when we use reported speech, we are usually talking about a time in the past ( because obviously the person who spoke originally spoke in the past). The verbs therefore usually have to be in the past too.

Ex : Direct Speech : “ I’m going to the cinema”, he said.

Indirect Speech : He said that he was going to the cinema. → there is the addition of the word “THAT” in sentence.

The difference is only in the direct line there are quotation marks,while the indirect sentence there is no quotation marks.

TENSES CHANGES

As a rule when you report something, someone has said you go back a tense (the tense on the left changes to the tense on the right).

DIRECT SPEECH INDIRECT SPEECH

1. PRESENT TENSE PAST TENSE

She said, “It is cold.” ↔ She said it was cold.

2. PRESENT CONTINUOUS PAST CONTINUOUS

She said, “I am teaching English online.” ↔ She said she was teaching English

online.

3. PRESENT PERFECT CONTINUOUS PAST PERFECT CONTINUOUS

She said, “I have been teaching English for ↔ She said she had been teaching English

seven years.” for seven years.

4. PRESENT PERFECT SIMPLE PAST PERFECT SIMPLE

She said, “I have been on the web since 1999.”↔She said she had been on the web since

1999.

5. PAST SIMPLE PAST PERFECT

She said, “I thought online yesterday.” ↔ She said she had taught online

yesterday.

6. PAST CONTINUOUS PAST PERFECT CONTINUOUS

She said, “I was teaching earlier.” ↔ She said she had been teaching earlier.

7. PAST PERFECT PAST PEFECT

She said, “The lesson had already started ↔ She said lesson had already started when

when he arrived.” he arrived. (NO CHANGE)

8. PAST PERFECT CONTINUOUS PAST PERFECT CONTINUOUS

She said, “I would already been teaching for ↔She said I would already been teaching five minutes. for five minutes. (NO CHANGE

MODAL

Modal verb forms also sometimes change.

DIRECT SPEECH INDIRECT SPEECH

1. WILL WOULD

She said, “I will teach English online ↔ She said she would teach English

tomorrow. online tomorrow.

2. CAN COULD

She said, “I can teach English online.” ↔ She said she could teach English online.

3. MUST HAD TO

She said, “I must have a computer teach ↔ She said she had to have a computer English online.” teach English online.

4. SHALL SHOULD

She said, “What shall we learn today?” ↔ She asked what we should learn

today.

5. MAY MIGHT

He told me, “You may leave us now” ↔ He told me that I might leave them

then.

NOTE : There is no change to could, would, should, might & ough to.

TIME CHANGE

If the reported sentences contains an expression of time, you must change it to fit in with the time of reporting.

For example we need to change words like here and yesterday if they have different meanings at the time and place of reporting.

Expression of time if reported on a different day

· This ↔ That

· Today ↔ Yesterday

· These ↔ Those

· Now ↔ Then

· A week ago ↔ A week before

· Last weekend ↔ The weekend before last/

The previous weekend

· Here ↔ There

· Next week ↔ The following week

· Tomorrow ↔ The next

Akan tetapi kalau this,here,now dan sebagainya menunjuk pada benda.tempat atau waktu tertentu merupakan yang sekarang bagi si pembacanya pada waktu memberitakan, maka tiada perubahan kata sifat atau kata keterangan yang dilakukan dalam reported speech .

Ex :

Direct : Andi said, “ This is my pen.”

Indirect : Andi said that this was his pen.
»»  READMORE...

PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA POLITIK

1. Pengertian etika sebagai salah satu cabang filsafat praktis.

Filsafat praktis. Cabang ini mencakup: " ilmu etika. yang mengatur kesusilaan dan kebahagiaan dalam hidup perseorang " ilmu ekonomi, yang mengatur kesusilaan dan kemakmuran di dalam negara.

Etika merupakan kelompok filsafat praktis (filsafat yang membahas bagaimana manusia bersikap terhadap apa yang ada ) dan dibagi mejadi kelompok. Etika merupakan pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Eika juga ilmu yang membahas tentang bagaimana dan mengapa kita harus belajar tentang etika dan mengikuti ajaran moral.

Pancasila memegang peranan dalam perwujudan sebuah sistem etika yang baik di negara ini. Disetiap saat dan dimana saja kita berada kita diwajibkan untuk beretika disetiap tingkah laku kita. Seperti tercantum di sila ke dua “ kemanusian yang adil dan beadab” tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran pancasila dalam membangun etika bangsa ini sangat berandil besar, Setiap sila pada dasarnya merupakan azas dan fungsi sendiri-sendiri, namun secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan.

Maka bisa dikatakan bahwa fungsi pancasila sebagai etika itu sangatlah penting agar masyarakat harus bisa memilih dan menentukan calon yang akan menjabat dan menjadi pimpinan mayarakat dalam demokrasi liberal memberikan hak kepada rakyat untuk secara langsung memilih pejabat dan pemimpin tinggi (nasional, provinsi, kabupaten/kota) untuk mewujudkan harapan rakyat … ! dengan biaya tinggi serta adanya konflik horizontal. Sesungguhnya, dalam era reformasi yang memuja kebebasan atas nama demokrasi dan HAM, ternyata ekonomi rakyat makin terancam oleh kekuasaan neoimperialisme melalui ekonomi liberal. Analisis ini dapat dihayati melalui bagaimana politik pendidikan nasional (konsep : RUU BHP sebagai kelanjutan PP No. 61 / 1999) yang membuat rakyat miskin makin tidak mampu menjangkau.Bidang sosial ekonomi, silahkan dicermati dan dihayati Perpres No. 76 dan 77 tahun 2007 tentang PMDN dan PMA yang tertutup dan terbuka, yang mengancam hak-hak sosial ekonomi bangsa !

2. Pemahaman konsep dan teori etika.

Menurut Kamus Besar Bhs. Indonesia (1995) Etika adalah Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Sepertinya pengertian Etika diatas kurang lengkap, karena nilai-nilai itu harus sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan. Etika adalah Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral.

* Menurut Maryani & Ludigdo (2001) “Etika adalah Seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang di anut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau profesi”.

* Dari asal usul kata, Etika berasal dari bahasa Yunani ‘ethos’ yang berarti adat istiadat/ kebiasaan yang baik. Perkembangan etika yaitu Studi tentang kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan, menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan pada umumnya.

Etika punya arti yang berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang pengguna yang berbeda dari istilah itu.

* Bagi ahli falsafah, etika adalah ilmu atau kajian formal tentang moralitas. Moralitas adalah ha-hal yang menyangkut moral, dan moral adalah sistem tentang motivasi, perilaku dan perbuatan manusia yang dianggap baik atau buruk.

Dalam mengkaji masalah etika diketahui terdapat 2 teori, yaitu :

a. Teori konsekuensialis

Kelompok teori yang konsekuensialis menilai baik-buruknya perilaku manusia atau benar-salah tindakannya sebagai manusia berdasarkan konsekuensi atau akibatnya. Yakni dilihat apakah perbuatan atau tindakan itu secara keseluruhan membawa akibat baik lebih banyak daripada akibat buruknya atau sebaliknya. Teori-teori etika konsekuensialis, karena dalam menilai perbuatan atau tindakan juga merujuk pada tujuan (dalam bahasa Yunani = telos) , juga disebut teori-teori etika teleologis. Teori-teori ini mendasarkan diri atas suatu keyakinan bahwa hidup manusia secara kodrati mengarah pada suatu tujuan. Baik-buruknya perilaku orang dinilai dari apakah perilaku itu menunjang proses pencapaian tujuan akhir hidupnya sebagai manusia dan merupakan bentuk perwujudan nilai-nilai yang dicita-citakan dalam hidupnya sebagai manusia, atau sebaliknya menghambat dan merupakan pengkhianatan terhadap cita-cita tersebut. Termasuk dalam kelompok teori konsekuensialis dan teleologis adalah teori etika egoisme, eudaimonisme, dan utilarisme. Sesuai dengan arti dari kata konsekuen, yaitu etika tersebut sesuai dengan apa yang di katakan dan diperbuatnya.

b. Teori non konsekuensialis

Sedangkan yang non-konsekuensialis menilai baik buruknya perbuatan atau benar-salahnya tindakan tanpa memperhatikan kesekuenasi atau akibatnya, melainkan berdasarkan sesuai tidaknya dengan hukum atau standar moral. Sedangkan yang non-konsekuensialis kadang juga disebut teori etika deontologis, karena menekankan konsep kewajiban (dalam bahasa Yunani = deon) moral yang wajib ditaati oleh manusia sebagai makhluk rasional Sedangkan teori etika non-konsekuensialis yang akan dibahas dalam kursus ini adalah teori etika deontologis I. Kant dan etika nilai Max Scheler.

3. Pengertian Etika Politik berdasarkan nilai-nilai etika yang terkandung dalam Pancasila.

Etika politik sebagai cabang dari etika sosial dengan demikian membahas kewajiban dan norma-norma dalam kehidupan politik, yaitu bagaimana seseorang dalam suatu masyarakat kenegaraan ( yang menganut system politik tertentu) berhubungan secara politik dengan orang atau kelompok masyarakat lain. Dalam melaksanakan hubungan politik itu seseorang harus mengetahui dan memahami norma-norma dan kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi.

Dan pancasila memegang peranan dalam perwujudan sebuah sistem etika yang baik di negara ini. Disetiap saat dan dimana saja kita berada kita diwajibkan untuk beretika disetiap tingkah laku kita. Seperti tercantum di sila ke dua “ kemanusian yang adil dan beadab” tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran pancasila dalam membangun etika bangsa ini sangat berandilbesar.
Setiap sila pada dasarnya merupakan azas dan fungsi sendiri-sendiri, namun secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang sistematik. Pancasila adalah suatu kesatuan yang majemuk tunggal, setiap sila tidak dapat berdiri sendiri terlepas dari sila lainnya, diantara sila satu dan lainnya tidak saling bertentangan.

Secara etimologi, politik adalah strategi. Ia dapat dimaknai sebagai sebuah penggalian kemampuan manusia untuk menggunakan kemampuan daya pikirnya dalam upaya proses perubahan. Secara terminologi, politik berarti memerdekakan manusia dari segala bentuk ketidakadilan, penindasan, kemiskinan, dan kebodohan. Maka, pada tataran substansi, politik tentu tidak kejam, ia juga tidak berisi permusuhan, apalagi penghancuran manusia. Politik mengenal etika, justru peduli terhadap kaum minoritas, kaum tertindas, dan berbicara atas kepentingan kolektif (masyarakat) secara jujur dan sungguh-sungguh.

Politik tak beretika, salah satunya adalah karena makna politik tidak lagi dipahami sebagai sebuah distribusi kekuasaan yang salah satu agendanya adalah kesejahteraan rakyat. Berbicara politik lebih berorientasi untuk mengejar materi yang jembatannya adalah kekuasaan itu sendiri. Politik pun akhirnya bicara soal mata pencaharian yang instant. Kekuasaan politik dikejar tak lebih untuk memperoleh pekerjaan dan jabatan.

Budaya politik yang cendrung antagonis itu, pada akhirnya sering membenarkan kekerasan sebagai panglima digjaya. Ketamakan dan kehausannya berwujud dalam sikap korupsi, pengabaian kemiskinan, kesenjangan sosial, keberagaman, impunity dan feodalisme kekuasaan yang mengangkangi hukum, dan pengabaian pada sejarah kekerasan di masa lalu dengan mengubur ingatan sosial.

Mengingat tantangan etika politik ke depan adalah, soal kemiskinan, ketidakpedulian, korupsi, kekerasan sosial, terutama terhadap perempuan, maka banyak strategi yang harus dilakukan. Pertama, meretas etika politik itu sedini mungkin melalui lingkungan keluarga: membiasakan pola relasi yang seimbang antara dua jenis manusia, menghargai keberagaman, dan perbedaan pendapat, terutama sejak anak-anak masih kecil.

Kedua, memperkuat lembaga-lembaga strategis seperti pemerintahan daerah hingga gampong, lembaga adat dan lembaga agama dengan mengintegrasikan etika politik di dalamnya, juga terhadap peraturan-peraturan internal partai baik AD/ART, program dan peraturan-peraturan partai lainnya. Ketiga, memperkuat komunitas di tingkat akar rumput, terutama perempuan agar melek politik, serta adanya peraturan yang tegas dan dijamin dalam hukum (berupa sangsi) yang ketat terhadap proses-proses pengambilan kebijakan yang tidak menyertakan perempuan di setiap institusi.

Keempat, perlu memotivasi perempuan untuk bersedia mengambil peran dalam kancah politik melalui sosialisasi, advokasi dan fasilitasi bagi kader politik perempuan, pematangan konsensus bersama untuk mewujudkan keadilan bersama, perempuan dan laki-laki. Kelima, yang lebih signifikan adalah, membangun proses penyadaran akan pentingnya etika politik dalam setiap lapisan masyarakat.

4. Penerapan Nilai, Norma, dan Moral dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pembentukan sistem etika dikenal namanya nilai, norma dan moral. Penulis akan coba membahas pengertian tiap-tiapnya, dan hubungan antaranya.
a. Pengertian
Nilai : Sifat atau kualitas yang melekat pada suatu obyek, bukan obyek itu sendiri
Norma : Aturan tingkah laku yang ideal
Moral : Integritas dan martabat pribadi manusia
Sedangkan etika sendiri memiliki makna suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran dan pandangan moral.

b. Hubungan nilai, norma dan moral
Nilai, norma dan moral langsung maupun tidak langsung memiliki hubungan yang cukup erat, karena masing-masing akan menentukan etika bangsa ini. Hubungan antarnya dapat diringkas sebagai berikut :
1. Nilai: kualitas dari suatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia (lahir dan batin).
- Nilai bersifat abstrak hanya dapat dipahami, dipikirkan, dimengerti dan dihayatiolehmanusia;
- Nilai berkaitan dengan harapan, cita-cita, keinginan, dan segala sesuatu pertimbangan batiniah manusia
- Nilai dapat bersifat subyektif bila diberikan olehs ubyek, dan bersifat obyektif bila melekat pada sesuatu yang terlepasd arti penilaian manusia
2. Norma: wujud konkrit dari nilai, yang menuntun sikap dan tingkah laku manusia. Norma hokum merupakan norma yang paling kuat keberlakuannya karena dapat dipaksakan oleh suatu kekuasaan eksternal, misalnya penguasa atau penegak hukum
3.Nilai dan norma senantiasa berkaitan dengan moral dan etika
4.Makna moral yang terkandung dalam kepribadian seseorang akan tercermin pada sikap dan tingkah lakunya. Norma menjadi penuntun sikap dan tingkah laku manusia.
5.Moral dan etika sangat erat hubungannya. Etika adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang prinsip-prinsip moralitas.
Pada hakikatnya segala sesuatu itu bernilai, hanya nilai macam apa yang ada serta bagaimana hubungan nilai tersebut dengan manusia. Banyak usaha untuk menggolong-golongkan nilai tersebut dan penggolongan tersebut amat beranekaragam, tergantung pada sudut pandang dalam rangka penggolongan tersebut. Notonagoro membagi nilai menjadi tiga maacam, yaitu:
1) Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani manusia, atau kebutuhan material ragawi manusia.
2) Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas.
3) Nilai kerokhanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohanimanusia nilai kerohanian ini dapat dibedakan atas empat macam yaitu :
a) Nilai kebenaran
b) Nilai keindahan
c) Nilai kebaikan
d) Nilai religious
»»  READMORE...

Minggu, 26 September 2010

Kepingan naskah ketiga :

Setelah tiga minggu aku berada di sekolah, ternyata tidak sebaik yang kubayangkan. Beberapa teman terkadang mengejekku, mengajakku bermain yang tidak ku suka, dan terkadang memainkan klakson sepedanya didekatku. Jujur, pendengaranku sangat sensitive. Aku sering menutup telinga ketika merasa sangat bising atau mendengar suara – suara keras didekatku. Dan tidak jarang aku menjadi lebih agresif dibanding teman – teman yang lain. Aku merasa tidak bersahabat ditempat ini.

Dan siang itu, ibu tidak dapat menjemputku seperti biasanya. Aku telah lama menunggu hingga akhirnya aku memutuskan untuk pulang berjalan kaki. Berjalan sendiri ditengah ramainya orang berlalu lalang dengan panas terik matahari yang menyengat kulitku. Aku sangat haus dan merasa lambungku telah menagih jatah makan siangnya, namun tidak ada seorangpun yang mengerti keadaanku. Jarak rumah ku menuju sekolah memang cukup jauh, hingga terkadang aku berhenti sejenak untuk sekedar istirahat dan bermain dengan imajinasiku sendiri. Yah.. saat itu aku melihat banyak burung yang terbang dilangit, dan spontan aku melambaikan tangan pada burung itu, seakan aku ingin merasakan terbang seperti burung itu. So Impossible…

“Heii… anak autis.. minggiiir…” “kriiingg…..kriiingg..kriing,,!!!” suara salah seorang dari segerombolan anak-anak itu sontak membuatku kaget. Ditambah banyaknya suara bel sepeda yang membuatku sangat pusing melihatnya. Dan entah darimana dia tahu akan penyakitku. Mungkin orangtua mereka yang sering menggosip dengan orangtua lainnya saat menjemput anaknya sekolah. Entahlah yang pasti aku ingin……. Dan…

“Aaaaauuu……. (gubraak.)”.. tanpa sadar aku mendorong radit, salah satu temanku yang mengendarai sepeda itu sehingga dia terjatuh dan kepalanya terbentur tepat dengan batu besar hingga mengeluarkan banyak darah.

Aku tidak memperdulikannya dan segera berlari menuju rumah.

“Heii…. Anak autis.. lihat saja kau nanti!!!” radit pun berdiri dibantu teman – temannya dan dari wajahnya terlihat kekesalan yang akan dibalas padaku nanti.

--------------

Sesampainya di rumah, aku tidak menemukan keberadaan ibu. Aku hanya melihat kak panji dan teman – temannya sedang bermain di ruang tamu dan akupun tidak melihat adanya kak ratu di rumah. Kenapa ibu dan kak ratu pergi tanpa mengajakku.

“Eh udah pulang.. cuci tangan cuci kaki ganti baju terus makan yah.. tuh ibu udah siapin makanan buat kamu” kata kak panji seraya memberiku baju ganti. Tumben hari ini kak panji terlihat baik dan perhatian.

“ii…ibu maanaa” pertanyaan yang singkat dariku.

“Ibu lagi ke dokter, bentar lagi juga pulang” jawaban yang singkat pula.

Perasaanku menjadi tidak enak mendengar kata ‘dokter’. Siapakah yang sakit? Aku takut jika ibu sakit. Aku takut ditinggal ibu. Aku takut tidak ada lagi yang baik padaku. Tidak ada lagi yang membelaku saat orang disekelilingku mengasingkanku. Sepertinya aku berfikir terlalu berlebihan dan rasa pusing itu kembali hadir sehingga aku memutuskan untuk menyendiri di kamar. Tapi tak lama terdengar suara ibu dan kak ratu. Mereka sudah datang. Ada perasaan lega dihatiku.

“Assalamuallaikum.. panji, tadi kamu jemput genta,kan?” Tanya ibu pada kak panji sambil mencari-cari aku yang masih berada dikamar.

“Yaa bu.. kata dokter ratu sakit apa?”

“Terus genta sudah makan?” ibu kembali bertanya tentangku dan menghiraukan pertanyaan kak panji

“Kayaknya… udah”, jawab kak panji yang terus membohongi ibu.

“Kok kayaknya, bikin ibu khawatir aja.. genta sayang.. sudah makan belum?” panggil ibu dari luar pintu kamar. Dan aku segera mendatanginya. Namun ibu sudah berlalu menuju dapur.

“Yang sakit kan ratu bu, kenapa genta yang dikhawatirkan” .. cetus kak panji yang begitu kesal.

“Aku ngga papa kok kak, Cuma kecapean aja, besok juga sembuh” kata ratu sambil berbaring di kamarnya.

“Iya.. ratu ngga kenapa-kenapa, dia cuma butuh waktu buat istirahat. Obatnya diminum ya ratu..” jawab ibu menenangkan sambil memberikan segelas air dan beberapa obat yang masih dibungkus rapat. Aku tidak mengerti kak ratu sakit apa, tapi dari wajah ibu sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan dari kami. Semoga kak ratu baik - baik saja.(bersambung)
»»  READMORE...

Kepingan naskah kedua :

Tepat pukul 12.00 WIB ibu sudah berada dipagar depan sekolah. Aku segera mendatanginya dan cepat menaiki sepeda yang ibu bawa kemanapun. Hari pertama berada di sekolah tidak ada masalah denganku. Sepertinya teman-teman bisa menerimaku, atau mungkin mereka tidak tahu aku yang sebenarnya. Tapi, aku merasa tidak nyaman. Begitu banyak orang di sekolah, bising dan ramai. Tidak sedikit orang melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Aku bagai seorang tersangka narapidana yang disorot banyak mata. Be a positive thinking! Aku percaya semua orang baik padaku.
“Hey..ho.. adikku sudah mulai sekolah yaa. Are you happy?” seru kak ratu yang menyambutku dengan senyum khas nya sesampainya aku di rumah. Banyak orang yang menyukainya, selain karena postur tubuh yang menarik,berkulit putih,rambutnya yang terurai panjang dan berkilau, juga karena kelebihannya yang mudah bersosialisasi. Dengan sekali pertemuan saja,kak ratu bisa menarik simpati lawan bicaranya. Jelas berbeda denganku yang lebih banyak menghabiskan waktu sendiri daripada dengan orang lain.
Aku tidak tertarik untuk berteman. Tidak mudah bereaksi terhadap isyarat - isyarat dalam bersosialisasi atau berteman. Tidak spontan / refleks dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Aku pun tidak dapat meniru tindakan teman dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura. Terkadang aku dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam).
“Yaa….kak. aa..aku punya temaan b..baru” jawabku yang hanya ingin menyenangkan kakakku.
“Like that.. oia,kakak bawa buku baru, nanti kita baca sama-sama yah?” seru kak ratu sambil menuntunku menuju kamar.
“iiyaa ka..” kataku sambil mencari-cari buku yang semalam ku baca. Kak ratu memang sangat suka membaca,dan aku sering diracuninya dengan buku-buku fiksi ataupun buku nonfiksi. Kami memang bukanlah keluarga serba ada yang bisa membeli buku apapun, untungnya kak ratu selalu memanfaatkan waktu istirahat dengan meminjam buku di perpus sekolah dan menyodorkannya padaku. (bersambung)
»»  READMORE...

Kepingan naskah pertama:

Setahun kemudian

Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah, aku dimasukan di Sekolah Dasar tempat panji dan ratu menuntut ilmu dahulu. Sekarang panji sudah duduk dibangku SMA dan ratu duduk di bangku SMP. Jarak umur panji dan ratu adalah 2 tahun,sedangkan jarak umur ratu denganku 7 tahun. Menurutku, ratu lebih bisa menerimaku walaupun sebenarnya panji lah kakak tertua. Namun aku hanya bisa bersikap biasa pada keduanya. Sebulan sebelum aku di daftarkan sekolah, ada keributan kecil antara ayah dan ibu. Ayah tidak memperbolehkanku sekolah di sekolah biasa, ayah ingin aku sekolah di sekolah luar biasa yang bisa menampung anak autis sepertiku. Namun, ibu.. yah ibuku memang pengertian, ia tidak pernah membeda-bedakan aku, aku terlihat sama dengan yang lain. Ibu selalu bilang bahwa aku cerdas, aku bisa berada dimana saja dan tidak harus diasingkan. Pantas ibu memberiku nama Genta Brilliant, mungkin ibu selalu percaya bahwa aku cerdas, berbeda dengan kakak-kakakku yang namanya selalu diakhiri dengan nama ayah. Tapi itu tidak membuatku merasa iri kepadanya. Mungkin ayah malu memiliki anak sepertiku dan malu menyekolahkanku di sekolah umum karena untuk berbicara saja aku masih terbata-bata. Aku memang tidak suka banyak orang, aku suka menyendiri dan bermain dengan benda-benda yang menurut orang lain monoton, tapi bagiku menyenangkan. Memang aku sangat suka belajar, Aku selalu ingin belajar untuk menutupi kekuranganku, agar kelak aku tidak dilecehkan orang lain. Dan ratu, dialah kakak yang selalu mengajariku membaca, menulis, menggambar, walaupun terkadang pensil dan crayon itu justru rusak denganku.

“Mulai hari ini kamu sudah punya tanggung jawab ya, kamu harus belajar yang benar di sekolah, jangan buat keributan, nanti kamu akan memiliki banyak teman”, ucap ibu sambil merapikan baju seragam ku yang masih berantakan.

“I..iya bu”, sahutku.

“Ha..haa.. anak seperti dia dimasukkan disekolah itu, Cuma bisa bikin malu aja bu..” kak panji mulai mencibirku.

“Jangan begitu panji, dia itu adikmu yang pintar. Suatu saat ibu pasti bangga dengan genta” ibuku kembali memuji sambil mencium keningku. Sebenarnya aku selalu ingin menolak saat ibu menciumku. Karena aku tidak menyukai daya tarik fisik.

“Memangnya ibu siap kalau harus terus berurusan dengan kepala sekolah karena ulahnya, dia itu beda dengan panji,bu. Dia ngga pantes sekolah disana” kak panji terus mengucilkanku sambil duduk memakai sepatu.

“Siapa bilang.. ibu tidak takut dengan genta. Dia akan baik-baik saja di sekolah. Justru nanti ibu akan bangga karena prestasinya di sekolah” entah prestasi apa yang ibu maksud, tapi aku janji akan bisa membahagiakan ibu nanti.

Baiklah terserah ibu, semoga nanti ibu tidak lelah karena harus berkali-kali minta maaf kepada orang-orang karena kenakalannya” cetus kak panji sambil mencium tangan ibu dan berlalu meninggalkan kami.

Pagi itu ratu sudah berangkat lebih awal, kalau saja ada kak ratu, pasti dialah juru bicara ibu yang terus melawan kak panji. Aku hanya bisa diam, aku tidak suka banyak bicara. Tidak suka komunikasi, bahkan pada usia itu, aku tidak mengerti apa maksud pembicaraan mereka. Aku memang sangat pasif. Yang aku tahu, aku harus belajar di sekolah seperti yang ibu bilang.(bersambung)

»»  READMORE...

Genta is a Autism writer

Prolog

“ Kalau saja kamu tidak melahirkan anak itu, tidak akan begini jadinya. Kamu fikir saya tidak malu. Kemarin baru saja merusak tanaman orang, sekarang berantem dengan anak itu lagi. Harus bagaimana lagi saya mengajarinya, Bu..?” bentak ayah pada ibu yang sedari tadi hanya mengelus rambutku. Iya, itulah ayahku. Seorang lelaki berbadan besar tegap dengan suara yang keras lantang dan tidak pernah menampakan wajah persahabatan kepada setiap orang, kecuali pada ratu. Ratu adalah kakak kedua ku. Aku anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakak pertamaku bernama panji dan yang kedua bernama ratu. Mungkin ayah begitu sayang pada ratu karena dia anak perempuan satu-satunya. Bagiku, panji adalah seorang kakak yang baik,pintar,peduli dan perhatian, nyaris perfect. Tapi kebaikannya itu tidak pernah diberikan padaku melainkan pada ratu. Panji sangat menjaga ratu dan selalu cemburu apabila ibu lebih perhatian padaku daripada ia dan ratu. Aku sadar, mungkin karena aku berbeda dengan orang-orang normal sehingga akupun harus diperlakukan berbeda. Tapi, aku selalu melihat setiap orang dari sisi positifnya dan selalu menganggap semua orang baik padaku seperti yang sering ibu katakan.

“Kenapa ibu diam saja!! Pantas saja anak itu semakin menjadi-jadi. Benar apa yang Pak Surya bilang, dititipkan saja dia di panti, kan memang sepantasnya dia berada disana..” kembali ayah meluapkan emosinya. Dan aku langsung bangun dari pangkuan ibu. Mendengar kata ‘dititipkan di panti’ membuatku nyaris takut. Karena diusia ku yang baru 5 tahun itu,aku merasa tidak ada orang yang lebih baik kecuali ibu. Aku tidak ingin pisah dengan ibu.

“Istighfar lah yah, anak seusia genta memang masih nakal-nakalnya. Jangan beda-bedakan dia dengan yang lain. genta tidak boleh tinggal di panti!!” kini ibuku mulai bersuara. Memang setiap aku melakukan kesalahan, ibu lah pahlawan yang selalu membelaku. Sejujurnya, aku tidak pernah ingin membuat suatu kesalahan,namun terkadang aku reflex melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kulakukan. Itulah aku, aku dilahirkan dengan kekurangan. Aku berbeda dengan panji,ratu dan anak-anak lain seusiaku. Aku memiliki penyakit gangguan kejiwaan yang biasa disebut Autis Infantil. Untuk itu, ayah sangat membenciku dan selalu menginginkanku tinggal di panti.

Sejak lahir sampai dengan umur 24 - 30 bulan aku masih terlihat normal. Setelah itu orang tua ku mulai melihat perubahan seperti keterlambatan berbicara, bermain dan berteman (bersosialisasi) tidak seperti anak lainnya. Kecurigaan itu bertambah saat ibu memeriksakan aku pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autisme. Dan hasil diagnose mengatakan bahwa aku mengidap autis ringan yang kemungkinan dapat disembuhkan, tergantung dari berat tidaknya gangguan yang ada.

“Tapi kalau dia terus berada disini, barang apalagi yang akan dirusaknya. Anak siapa lagi yang menjadi korban kenakalannya. saya malu memiliki anak seperti itu!!”

“Astagfirullah yah, genta ini anakmu. Allah sedang menguji kita. Sesabar apakah kita menerimanya. Kalau ayah malu memiliki genta, biar ibu yang merawatnya. Biar ibu juga yang menghadapi keluhan tetangga akibat perbuataannya. Tapi ibu yakin, genta tidak akan senakal itu, kecuali dia merasa tidak nyaman di suatu tempat”. Ibu memang pahlawan bagiku, karena dialah yang menyelamatkanku saat ayah sudah menjajah pikiranku. Aku sempat tidak memiliki semangat hidup saat ayah bilang bahwa ‘malu memiliki anak sepertiku’. Tak sanggup aku menatap ayah dan hanya satu kalimat yang dapat kuucapkan dengan nada terbata-bata.

“mm..maafkaan genn..taa, yah”, ada banyak kata yang ingin kuucapkan. Sebenarnya aku berantem karena idam anak tetangga sebelah selalu mengejekku, terutama mengejek nama ayah. Ayahku memang hanya seorang supir taksi yang terkadang mengantarkan idam ke sekolahnya. Perubahan hidup kami terjadi saat ibu sedang mengandung aku. Semenjak ayah diberhentikan dari perhotelan dan segala investasinya habis, ayahku memulai usaha lagi dari nol. Walaupun memang sangat berat menerima kenyataan itu, namun ayah berusaha tegar menghadapinya,tapi tidak dalam menghadapiku.

“Sudahlah.. terserah kamu.. urus saja anak itu sendiri!!” Ayah pun berlalu meninggalkan aku dan ibu. Kalau saja ayah tahu penyebab aku berkelahi. Tapi ya sudahlah,toh kalau aku ceritakan ayah tidak akan percaya dan hanya memperpanjang masalah saja. Ibu pun kembali menatapku..

“Sudah malam, cepat tidur. Jangan disimpan di hati perkataan ayah tadi. Ayah cuma ingin kamu menjadi anak yang baik. Berkelahi itu bukan perbuatan baik. Kalau genta ingin menjadi anak ibu, genta harus menjadi anak yang baik. Bisa?” ibu kembali menasehatiku sambil menuntunku menuju kamar.

“Bb..bisaa..”

“Ibu percaya sama genta” memang hanya ucapan ibu yang selalu membuat aku tenang. Walau sebenarnya aku masih teringat kata-kata ayah yang selalu bilang ingin menitipkanku di panti. Aku tidak sanggup mengingatnya.(bersambung)

»»  READMORE...